Pengendara.com, Jakarta — PT Sokonindo Automobile selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) DFSK di Indonesia akan fokus pada kendaraan listrik komersial, dan berencana untuk memproduksinya di pabrik Cikande, Serang, Banten.
DFSK Gelora E kendaraan yang masuk dalam segmen minibus dan blind van ini semakin mempertegas keseriusan DFSK dengan mempersembahkan produk yang berkualitas, canggih, dan terjangkau.
Gloria E yang merupakan kendaraan listrik DFSK akan segera di produksi guna mendukung program pemerintah atas kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang tengah dipercepat agar menjadikan Indonesia pemain utama pada era elektrifikasi.
Hadirnya DFSK Gelora E sebagai dukungan kepada pemerintah dalam menggerakan perekonomian dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang sudah dicanangkan. DFSK Gelora E menjadi kendaraan niaga ringan pertama yang menggunakan motor listrik sebagai mesinnya.
“Saat ini DFSK Gelora E masih diimpor dalam bentuk utuh (CBU) semoga ke depannya kami akan memproduksi sendiri,” jelas Rifin Tanuwijaya, Director Sales And Marketing Director PT Sokonindo Automobile saat buka puasa bersama media di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Jumat (23/4).
Untuk mewujudkan hal ini ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi terlebih dahulu seperti terbentuknya pasar yang dibuktikan melalui permintaan dan pemesanan kendaraan terkait, dan penjualan harus mencapai 15.000 unit per tahun,
Langkah DFSK meluncurkan kendaraan listrik model minibus maupun blind van untuk niaga bisa dikatakan unik. Biasanya ATPM lain memperkenalkan mobil listrik dalam bentuk sedan atau SUV kompak, DFSK malah merilis dalam bentuk minibus dan blind van.
Ada dua varian yang ditawarkan DFSK Gelora E yakni Blind van yang memiliki luas kabin 4.800 liter, di banderol Rp 480 juta sampai Rp 490 juta dan minibus yang memiliki panjang 4,5 m, lebar 1,68 m dan tinggi 2 m dibandrol seharga Rp 510 juta sampai Rp 520 juta, dimana model inj sangat cocok untuk digunakan sebagai kendaraan angkutan umum, travel, kendaraan shuttle, antar jemput karyawan, bahkan mendukung sektor pariwisata.
“Karena pemerintah sudah menyiapkan aturan, infrastruktur juga mulai ada untuk kendaraan listrik, dan kita ATPM kita siapkan model-modelnya, begitu juga konsumen yang mulai menggunakan mobil listrik,” tambah Rifin.
Spesifikasinya DFSK Gelora E menggunakan baterai dengan kapasitas 42 kWh, dari baterai ini diteruskan ke motor listrik yang menghasilkan tenaga 60 kW atau setara 80,46 TK dan torsi 200 Nm. Kendaraan ini bisa menempuh jarak 300 KM. Untuk pengisian baterai dengan menggunakan fitur fast charging untuk mengisi dari 20-80 persen cukup 80 menit, sedangkan untuk 0 – 100 persen hanya membutuhkan 2,5 jam waktu pengisian.
PT Sokonindo Automobile selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) DFSK di Indonesia akan fokus pada kendaraan listrik komersial, dan berencana untuk memproduksinya di pabrik Cikande, Serang, Banten.
DFSK Gelora E kendaraan yang masuk dalam segmen minibus dan blind van ini semakin mempertegas keseriusan DFSK dengan mempersembahkan produk yang berkualitas, canggih, dan terjangkau.
Gloria E yang merupakan kendaraan listrik DFSK akan segera di produksi guna mendukung program pemerintah atas kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang tengah dipercepat agar menjadikan Indonesia pemain utama pada era elektrifikasi.
Hadirnya DFSK Gelora E sebagai dukungan kepada pemerintah dalam menggerakan perekonomian dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang sudah dicanangkan. DFSK Gelora E menjadi kendaraan niaga ringan pertama yang menggunakan motor listrik sebagai mesinnya.
“Saat ini DFSK Gelora E masih diimpor dalam bentuk utuh (CBU) semoga ke depannya kami akan memproduksi sendiri,” jelas Rifin Tanuwijaya, Director Sales And Marketing Director PT Sokonindo Automobile saat buka puasa bersama media di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada Jumat (23/4).
Untuk mewujudkan hal ini ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi terlebih dahulu seperti terbentuknya pasar yang dibuktikan melalui permintaan dan pemesanan kendaraan terkait, dan penjualan harus mencapai 15.000 unit per tahun,
Langkah DFSK meluncurkan kendaraan listrik model minibus maupun blind van untuk niaga bisa dikatakan unik. Biasanya ATPM lain memperkenalkan mobil listrik dalam bentuk sedan atau SUV kompak, DFSK malah merilis dalam bentuk minibus dan blind van.
Ada dua varian yang ditawarkan DFSK Gelora E yakni Blind van yang memiliki luas kabin 4.800 liter, di banderol Rp 480 juta sampai Rp 490 juta dan minibus yang memiliki panjang 4,5 m, lebar 1,68 m dan tinggi 2 m dibandrol seharga Rp 510 juta sampai Rp 520 juta, dimana model inj sangat cocok untuk digunakan sebagai kendaraan angkutan umum, travel, kendaraan shuttle, antar jemput karyawan, bahkan mendukung sektor pariwisata.
“Karena pemerintah sudah menyiapkan aturan, infrastruktur juga mulai ada untuk kendaraan listrik, dan kita ATPM kita siapkan model-modelnya, begitu juga konsumen yang mulai menggunakan mobil listrik,” tambah Rifin.
Spesifikasinya DFSK Gelora E menggunakan baterai dengan kapasitas 42 kWh, dari baterai ini diteruskan ke motor listrik yang menghasilkan tenaga 60 kW atau setara 80,46 TK dan torsi 200 Nm. Kendaraan ini bisa menempuh jarak 300 KM. Untuk pengisian baterai dengan menggunakan fitur fast charging untuk mengisi dari 20-80 persen cukup 80 menit, sedangkan untuk 0 – 100 persen hanya membutuhkan 2,5 jam waktu pengisian.




