Array

Seperti Inilah Potret Industri Otomotif di Pandemi Covid-19, Ini Solusinya

Pengendara.com-Bila ditinjau dari sisi produksi dibandingkan kuartal kedua dengan ketiga meningkat. Tumbuh 172 persen produksinya. Tepatnya di angka 113.560. Sementara dari sisi wholesales, April-Juni sekitar 24,42 ribu. Juli hingga September  111,104 itu naiknya 362 persen.

“Kita perbandingkan pada masa pandemi ini di sektor industri otomotif memang menurun drastis. Penjualan drop tentunya dan berdampak kepada mereka para karyawannya dan pengusahanya. Namun begitu sebagai pemerintah kami berusaha industri tersebut tetap jalan,” kata Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian.

Ia mengatakan, bahwa sektor industri otomotif tidak boleh berhenti. Karena ekspor ke-80 negara lainnya nantinya akan diambil oleh Negara lainnya. Waktu itu pemerintah sudah mengeluarkan IOMKI yang mendukung proses produksi, Untuk ekspor Indonesia masih optimis.

“Potret industri otomotif roda dua atau lebih, itu ada sekitar 18 industri. Produksinya kemarin itu 1,28 juta, kapasitas kita berkisar 2,28 juta. Yang menampung tenaga kerja 38,47 ribu,” katanya.

Lalu bagaimanakah potret produksi penjualan roda empat? Mulai tahun 2005 gambaran industri otomotif memang sensitif terhadap perubahan global, diantaranya, pandemi ini.

.“Sebelum-sebelumnya juga ada, jadi waktu ada peningkatan harga fuel itu kita juga turun sampai 40 persen tahun 2006. Kemudian ada peristiwa krisis, itu kita turun hingga 19 sampai 22 persen. Saat kami keluarkan mobil LCGC barulah produksi meningkat,” katanya.

Masih menurutnya, singkatnya di era covid ini ia tidak memungkiri memang berdampak keseluruh dunia untuk sektor otomotif. Di awal awal turun 40-50 persen. Namun pemerintah tetap berusaha agar perekonomian di sektor ini tidak boleh berhenti. Ia tetap mempertahankan agar industri berjalan.

“Kita sudah mengeluarkan berbagai usulan insentif fiskal di perusahaannya, pengurangan pajak PBH terus bahan baku impor juga kita relaksasi kemudian pajak-pajak badan itu di perusahaannya. Kemarin kami usulkan di masyarakat yang punya uang itu supaya membelanjakan, kalau instrumen fiskal sudah ada di perusahaan wah ini kurang, kita coba angkat ke masyarakat yang mau beli. Kita usulkan tapi sampai sekarang belum diakomodir, Paling tidak kalau kita usulkan itu, itu semua sektor IKM juga bekerja untuk mensuplai industrinya, produksinya akan naik utilisasinya juga akan meningkat, ini harapan kita,” ucapnya di acara virtual zoom, Kamis (12/10/20).

Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian.Foto Istimewa/Pengendara.com

Artinya kekuatan daripada konsumen untuk membeli itu menjadi penting. Untuk sekarang ini pemerintah memerlukan instrumen seperti itu. Industrinya sekarang beralih ke konsumen. Kini industri otomotif mulai ada perkembangan, tinggal mengembalikannya ke kondisi normal.

“Ekspor-impor kita di CBU itu masih surplus. Jadi kita bisa surplus sekira ekspornya roda empat 28,2 triliun, impornya sekitar 11,2 triliun. Ini akan memberikan dampak positif sampai September. Artinya pasar-pasar yang ada di luar negeri terus tumbuh dan produksi di industri otomotif tetap meningkat, walaupun peningkatannya tidak sama seperti kondisi normal, tapi arah perbaikan sudah terlihat hingga kuartal 3. Kemudian kita lihat di CKD dan IKD di industri roda empat itu juga terutama IKD konsepnya adalah IKM-IKM memberikan suplai komponennya ke industri-industri itu, jadi sudah mulai ada pergerakan ke arah positif. Begitujuga dengan roda duanya yang tumbuh naik di kuartal 3, 9,5 persen,” ucapnya.

“Ekspor kita untuk sepeda motor itu hampir mencapai 11,4 tiriliun hingga September, impor kita 0,4 artinya surplusnya cukup tinggi,” ujarnya.

Mobil Listrik

Di dalam virtual tersebut ia juga menuturkan, mobil listrik akan booming di tahun 2025, targetnya 20 persen. Di sinilah ada mobil listrik berbasis baterai, mobil hybrid yang strong hybrid dan mild hybrid.

“Selain itu kita juga mengembangkan ruang-ruang untuk hybrid seperti bio etranol dan bio solar. Ini sebenarnya program Presiden. Dengan demikian Indonesia menghamat 43 triliun impor solar dan fuelnya,” katanya lagi.

Hal senada juga dikatakan oleh Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo. Ia mengatakan bahwa posisi industri otomotif Indonesia secara global menduduki peringkat ke-13. Sayangnya 2020 ada pandemi.

Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo.Foto Istimewa/Pengendara.com

“Kapasitas produksi saat ini di Indonesia sekitar 2,4 juta unit mobil per tahun. Ini belum di optimalkan sepenuhnya. Walaupun begitu kita mungkin maksimal baru menggunakannya 54 persen pada waktu puncaknya yang lalu, 1 juta pertahun. Kalau dioptimalkan bisa dibayangkan dapat memberikan tambahan lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Kami Gaikindo bekerjasama dengan pemerintah berupaya apa saja untuk mengoptimalkannya,” kata Kukuh Kumara.

Esther Sri Astuti, Direktur Program INDEF, juga mengaminkan bahwa pandemi ini mempunyai dampak di perekonomian Indonesia. Caranya agar tidak terpuruk dan bangkit kembali adalah harus melakukan adaptasi kebijakan-kebijakan strategi perusahaan harus diarahkan untuk beradaptasi dengan kondisi pandemi.

“Menghadapi pandemi kita tidak bisa sprint, pandemi ini harus kita hadapi dengan mengatur napas untuk lari maraton. Saya berharap agar pandemi selesai di Indonesia. Berbagai kebijakan yang harus dilakukan adalah yang pertama kebijakan kepemilikan. Jadi mendorong konsumen untuk lebih memilih menggunakn mobil yang berbahan bakar ramah lingkungan. Kedua mendorong konsumen untuk bisa menggunakan mobil dengan bahan bakar ramah lingkungan. Ketika insentif bisa diberikan kepada produsen mobil yang berbahan bakar ramah lingkungan, contohnya seperti itu,” kata Esther.

Esther Sri Astuti, Direktur Program INDEF.Foto Istimewa/Pengendara.com

Latest Posts