Foto; Koes / Pengendara.com
PT Denka Pratama

Pengendara.com, Macao — Setelah sarapan pagi di hotel City Garden Hongkong, pada hari kedua saya berkesempatan mengujungi Macau sebuah wilayah di pesisir selatan Republik Rakyat Tiongkok setelah penandatanganan perjanjian antara Portugal dengan Tiongkok pada 20 Desember 1999.

Macau yang memiliki otoritas khusus berjuluk Special Administrator Region atau kawasan administratif khusus yang memiliki luas 29,5 km persegi mampu menerima kunjungan 26 juta wisatawan asing pertahun, hal inilah yang membuat penasaran saya ingin tahu tentang Macau negara Kecil yang sukses menarik wisatawan asing.

Cotaijet atau ferry biru berkapasitas 234 penumpang akan membawa para wisatawan dari pelabuhan Ferry Shun Tak menuju pelabuhan Terminus Maritimo di Macao. Foto; Koes / Pengendara.com

Untuk menuju kesana kami menggunakan cotaijet atau ferry biru dari pelabuhan Ferry Shun Tak menuju pelabuhan Terminus Maritimo di Macao yang memakan waktu selama 75 menit dengan harga tiket $HK 170 setara dengan Rp 254.000,- yang berangkat setiap 30 menit sekali.

Setelah turun dari Cotaijet berkapasitas 234 penumpang kami langsung menuju bus yang akan mengantarkan kami ke Largo de Senate atau Senado Square sebuah kawasan downtown Macau yang merupakan salah satu landmark yang wajib di kunjungi bila berkunjung kesana. Suasananya sangat meriah dengan campuran bangunan baru dan lama yang didominasi sentuhan arsitektur gaya Portugis serta nama nama jalan yang ditulis dalam dua bahasa Tionghoa Dan Portugis.

Liburan ke Macau memang tidak lengkap tanpa berkunjungan ke Ruin of St Paul’s puing gereja yang menjadi ikon di Macau yang sangat populer di kalangan para turis dimana lokasinya berada di dataran yang cukup tinggi. Untuk menuju kesana kami harus melewati jalan yang menanjak sebelum bisa menikmati pesona puing-puing gereja tersebut.

Ruins of St Paul’s dulunya adalah Gereja St Paul atau dikenal juga sebagai Mater Dei Gereja yang didirikan pada tahun 1602-1640 menjadi bagian dari St Paul’s College sebab komplek ini merupakan konstruksi para Jesuit.

penulis berada di depan puing gereja Ruin of St Paul’s. Foto; Koes / Pengendara.com

Gereja yang awalnya berdiri dengan megah pada tahun 1835 terbakar bersama dengan bangunan perguruan tinggi di dekatnya, kebakaran ini hanya menyisakan bagian depan gereja, tangga dan fondasi di beberapa sisi. Hingga kini sisa-sisa gereja masih dilestarikan dan beberapa kali sempat direnovasi.

Bagian depan yang hanya berupa sebuah dinding dengan ukiran indah di sisi depannya ini tampak berdiri dengan kokoh dan menarik wisatawan lokal dan mancanegara yang datang untuk melihatnya. Kawasan ini selalu ramai di kunjungi wisatawan dari siang hingga sore hari hanya untuk berfoto untuk mengabadikannya.

Selain berfoto di depan reruntuhan Ruins of St Paul’s kami juga melihat puing-puing lainnya yang masih ada dengan melewati pintu masuk di dinding yang populer itu. Disana terdapat sejumlah makam biarawan yang berlapis kaca di kanan dan kiri jalan, kemudian di ujung jalan ada Museum of Sacred Art dan Crypt yang berisi puing bangunan dan barang-barang peninggalan sejarah komplek gereja.

Untuk memasuki Museum of Sacred Art ini tidak dikenakan biaya dan dibuka setiap hari pukul 09.00-18.00, kecuali hari selasa di tutup lebih awal yakni pukul 14.00 waktu setempat. Karena Museum ini tak terlalu besar jadi cukup 10 menit saja untuk menjelajahinya.

Sebelum kembali kami sempat mampir ke Senado Square, alun-alun yang cantik di Macau sekaligus berbelanja sekedar untuk membeli suvenir untuk oleh-oleh.

Dealer Suzuki