Fathoni Uber yang mempunyai satu kaki tetap menjadi driver ojek online.Foto Abdi/Pengendara.com
PT Denka Pratama

Pengendara.com—Kedua orangtua saya memberi nama Fathoni Jarkasih. Saya kelahiran 29 April 1989. Dari pernikahan dengan pujaan  hati, bernama Kartini, saya dikarunia dua orang anak, perempuan kelas 1 SD dan laki-laki yang baru berusia 4,5 tahun saat ini.

Aktivitas saya sehari-hari ditopang satu kaki dan sebuah tongkat. Hingga sekarang saya menjadi ojek online (ojol). Beginilah cara saya mencari rezeki untuk menafkahi anak-istri dengan penuh semangat.

Selepas Sholat Subuh saya berpamitan dengan istri dan mencium kening kedua anak saya yang masih tertidur pulas. Motor matic yang meneman saya mengantarkan penumpang biasanya melaju hingga pukul 23.00 wib. Terkadang saya berangkat dari rumah di Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa Barat, usai mengantarkan anak berangkat sekolah.

Saya juga pernah mencari nafkah keluar siang hari, pukul 11.00 wib hingga pukul 06.00 wib. Saat saya sedang narik ojek online, tongkat yang terbuat dari kayu, saya letakkan di belakang setang kiri. Tongkat saya sandarkan ke dada kiriku agar tidak mengganggu kemudi.

Saat macet dan berhenti, hanya satu kaki kiri yang menjadi pijakan kekuatan. Saya mengakui sempat minder menjadi ojek online. Saya minder melihat pengendara ojek online lainnya yang mempunyai fisik sempurna dan prima. Namun, saya tepis jauh-jauh agar tidak mengurangi semangat dan perjuangan ikhtiar setiap hari.

Walaupun hanya satu kaki sebagai pengendara ojek online, tidak pernah mengeluh. Uber-uberan berjuang mencari rezeki/Foto Abdi-Pengendara.com

Penuh Suka dan Duka

Masih saya ingat jelas, tarikan pertama mendapat penumpang–saya biasa menyebutnya sewa–dari Cinangka, Sawangan, Depok ke kawasan Tanah Abang. Saat itu, seorang pria yang ingin berangkat kerja. Sejenak saya berhenti di depannya, penumpang tersebut cukup terkejut mengetahui kondisi saya yang membawa tongkat dan hanya punya satu kaki.

Tetapi, mungkin karena sedang terburu-buru dan berpacu dengan waktu, dia tidak terlalu peduli dengan keadaan saya. Dia hanya menyapa, Mas Fathoni ya? Untuk menyakinkan tidak salah order ojek onlinenya. Alhamdulillah, penumpang ini saya antarkan hingga tempat tujuan tanpa ada halangan rintangan di jalan.

Hari itu perjalanan lancar tanpa ada pertanyaan sedikitpun dari penumpang tentang diri ini. Justru yang menjadi sewa di hari itu  tadi yang memberikan tips yang berlebih. Sehingga, saat tiba waktunya saya harus pulang ke rumah, saya bisa memberikan rezeki untuk keperluan belanja, sekolah dan jajan anak-anak. Saya mengucapkan terima kasih, bersyukur atas rezeki-Mu Ya Allah kepada keluarga hamba.

Di hari selanjutnya, seorang ibu yang menjadi penumpang saya sempat  menanyakan keadaan saya. Ibu itu tidak percaya dengan kondisi cacat saya ini. Ibu itu terdiam dan memandangi saya penuh selidik,  tajam. Ibu ini berkata kepada saya, Mas narik ojek online dengan kaki satu? Selamat tidak sampai tujuan? Kan yang dibawa nyawa, bukan barang. Saya menjawab dengan sabar, Insya Allah selamat sampai tujuan. Saya yakin dan Bismillah. Ibu ini sempat terdiam mendengar perkataan dan kesungguhan saya.

Saya yang berada di sampingnya mengajak Ibu ini naik ke atas motor. Saya hanya berpesan, sebelum memutar gas, agar ibu nanti di jalan saat macet tolong jaga keseimbangan ya, kaki jangan turun.

Di hari berikutnya, saya mendapatkan penumpang yang bertanya mengenai perihal keadaan saya dan sempat membuat saya sedikit kesal. Pertanyaan penumpang sangat detail sekali, seakan mencecar saya. Tapi saya maklum. Padahal, sudah saya jawab dan bahwa Insya Allah selamat sampai tujuan. Bismillah.

Saya mengatakan padanya, berpengalaman membonceng istri dan anak saya, sebelum saya narik ojek online, sehari-harinya mereka saya boncengin motor ke pasar dan jalan-jalan ke tempat saudara. Penumpang itu seperti tidak percaya dengan pengalaman saya. Sehingga harus saya katakan dengan nada tegas, Anda yang batalkan atau saya yang batalkan pemesanan.

Singkatnya, penumpang itu naik ke motor saya. Namun di perjalanan dia tetap gelisah. Terbukti, motor yang saya kendarai ini tidak seimbang, akibat bergoyangnya penumpang tersebut. Dengan kesabaran akhirnya sewa ini selamat sampai tujuan tanpa ada halangan. Alhamdulillah..

Berbagai pengalaman suka duka saya rasakan setiap harinya. Sukanya, ada beberapa penumpang yang ingin berfoto dengan saya, karena ojek onlinenya mungkin unik hanya satu kaki. Penumpang tersebut mengabadikan beberapa jepretan selfie dengan saya. Senangnya lagi, ada beberapa tarikan dekat, dengan tarif promosi hanya Rp5 ribu namun  penumpang ini malah memberikan uang kepada saya Rp50 ribu dan dia mengatakan kepada saya untuk mengambil kembaliannya. Alhamdulillah.. bersyukur atas rezeki-Mu Ya Allah..

Beberapa sewa ada juga yang meminta kepada saya agar mengendarai motor dengan cepat alias ngebut. Mungkin karena mengejar waktu untuk sampai ke lokasi tujuan. Saat sewa itu naik ke motor, saya tegaskan, apakah yakin dengan saya untuk cepat? Penumpang saya tidak ragu dan yakin, maka saya sedikit ngebut, tapi tetap berhati-hati demi keselamatan penumpang dan saya. Jalan sedikit longgar, saya percepat. Tentunya kecepatan motor saya sesuaikan dengan keadaan jalan.

Sempat saya memperoleh penumpang yang ingin membawa motor sendiri mungkin karena kurang yakin dengan ojek onlinenya. Maaf, percayakan saja kepada saya untuk membawa Anda. Jangan ada keraguan di diri Anda, inilah yang saya katakan kepada  penumpang, seorang mahasiswa dari arah Tanjung Barat ke Cilangkap.

Saya juga pernah membawa penumpang tinggi besar dan badan gemuk. Ia minta cepat-cepat. Karena ia yakin, saya kemudikan motor matic ku ini dengan kecepatan 70 kilometer per jam. Dengan jarak tempuh Jatiwarna ke Tanjung Priok.

Inilah pengalamanku sebagai ojek online sejak bulan Juli 2017 hingga sekarang ini yang telah memperoleh 1015 penumpang. Bila saya sedang narik ngalong (narik tengah malam) saya biasa mangkal di basecamp Point Square, Lebak Bulus. Tetapi, jika saya mencari orderan keluar pagi, saya singgah di beberapa titik tongkrongan ojek online di Depok, Parung, dan Serpong.

Sebagai driver ojek online sejak bulan Juli 2017 hingga sekarang ini yang telah memperoleh 1015 penumpang.Foto Abdi/Pengendara.com

Membahagiakan Keluarga

Saya terbiasa berkeliling Jabodetabek, rute mengantarkan penumpang. Berbagai cuaca dan kondisi jalan saya tempuh, hujan dan sengat teriknya matahari sudah biasa. Gumpalan asap kendaraan sudah tidak saya rasakan lagi. Sudah terbiasa. Lika-liku tingkah pengendara lainnya, ada yang tidak menyenangkan, seradak-seruduk, hingga pengendara sopan sudah menjadi santapan setiap hari, warna-warni mencari nafkah keluarga saya.

Keinginan saya hanya satu untuk saat ini, membahagiakan keluarga. Pendapatan yang saya peroleh jika dirata-ratakan berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per harinya. Memang masih belum membahagiakan anak dan istri. Namun, kami bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dihemat-hemat walaupun masih belum bisa menyisihkan untuk tabungan.  Dibalik ini semua, saya selalu bersyukur, Allah SWT memberikan kesehatan untuk saya beraktivitas berjuang menafkahi keluarga. Inilah yang terpenting bagi saya.

Fathoni saat singgah bersama sahabat ojek onlinenya.Foto Dok Fathoni/Pengendara.com

Kecelakaan Motor

Kenangan pahit yang mengakibatkan kaki kanan saya diamputasi masih kental dalam ingatan. Saya mengalami kecelakaan motor tahun 2009, bulan 6 tepatnya tanggal 25. Ketika itu saya sedang mengantarkan sahabat ke Jawa Timur. Di Lamongan, jalan aspal, kendaraan tidak begitu macet tiba-tiba saya yang mengendarai motor yang berada di lajur kiri kepeleset dan masuk ke bawah truk gandeng. Beruntung, truk tersebut sedang berjalan pelan. Namun, kakiku yang satu tergilas ban truk itu.

Posisi saya saat kecelakaan terjadi itu sadar dan ingin rasanya minta tolong tetapi semuanya hanya bisa terdiam. Masyarakat sekitar jalan dan para pengguna jalan akhirnya memberikan pertolongan. Saya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Di rumah sakit, saya bisa merintih menahan sakit yang bukan kepalang. Sakit sekali. Saya menderita. Lebih menderita lagi saat itu karena saya di lorong IGD hanya diberikan pertolongan sekadarnya. Pertolongan sepenuhnya akan diberikan jika ada uang muka untuk biaya pasien.

Iya, saya didiamkan sembari merintih sakit selama lima jam. Hanya diberikan pertolongan yang menurut saya tidak berarti. Alhamdulillah.. setelah lima jam, setelah saudara saya memberikan jaminan uang muka, barulah saya diberikan pertolongan sepenuhnya dan dimasukan IGD serta masuk kamar rawat inap. Dua minggu berlalu di Rumah Sakit, waktunya kaki kanan saya diamputasi. Menurut dokter, daging kaki kanan saya sudah tidak ada hanyalah tulang dan harus diamputasi. Sebulan saya harus menginap perawatan medis Rumah Sakit. Saya dipasangkan kaki palsu. Akhirnya saya diperbolehkan pulang. Orangtua merawat saya hingga pulih selama setahun.

Pemusik Jalanan  

Usai sembuh 2010-2017, saya mencoba menjadi pemusik jalanan (pengamen). Iya, saya hanya bermodalkan sebuah gitar dan kaki palsu. Saya bernyanyi dari bus ke bus. Tetapi saya merasakan kaki palsu yang saya gunakan sebagai pijakan kaki kanan tidak membuat bebas bergerak. Akhirnya saya mencoba melepaskan kaki buatan tersebut dan menggunakan tongkat kayu untuk mendukung aktivitas sehari-hari ketika itu.

Saya mengamen dari pukul 05.00 wib hingga pukul 23.00 wib. Penghasilan yang saya peroleh memang lebih besar dari pada ojek online, jika dirata-ratakan Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per harinya. Namun di tahun 2017 bulan Juli aku mencoba menjadi ojek online. Alhamdulillah, walaupun saya mempunyai satu kaki, saya tetap semangat mencari rezeki, mencari nafkah untuk keluarga tercinta. Terkadang juga di bulan Ramadan kemarin, ada penumpang yang menghubungi saya meminta nomor rekening untuk THR.

Pembaca terhormat Pengendara.com, jika ada yang ingin menyisihkan rezekinya dan ingin membantu keluarga Fathoni Jarkasih silakan dapat transfer ke rekening CIMB Niaga atas nama Fathoni Jarkasih dengan nomor rekening 704190186900.

Dealer Suzuki