Pengendara.com, Jakarta — Perusahaan minyak & gas milik negara Indonesia Pertamina berkolaborasi dengan Clariant perusahaan bahan kimia khusus yang terfokus, berkelanjutan dan inovatif, dimana bentuk kerjasama ini di bidang penilaian bahan bakar nabati mutakhir. Clariant untuk memproses bahan baku (feedstocks) regional yang tersedia di Indonesia menjadi biofuel mutakhir, etanol selulosa.
Kerja sama yang dibentuk oleh kedua perusahaan ini sudah berjalan sejak tahun 2018 untuk mengevaluasi kelayakan teknologi sunliquid® untuk mengubah bahan baku (feedstocks) regional yang tersedia menjadi bahan bakar nabati (biofuel) mutakhir yang di presentasikan secara detail dalam kerjasama proyek di Hannover Fair Munich pada akhir bulan April lalu untuk memproses bahan baku (feedstocks) regional yang tersedia di Indonesia menjadi biofuel mutakhir, etanol selulosa.
Indonesia memiliki potensi biomassa sangat besar yang belum dimanfaatkan, mulai tandan buah kosong hingga daun kelapa sawit yang dapat diubah menjadi etanol selulosa. Pemanfaatannya saat ini masih diabaikan, dan hingga saat ini, kedua bahan baku tersebut seringkali dibakar, yang mengakibatkan terjadinya pencemaran udara.
Peningkatan dramatis dalam permintaan etanol diperkirakan terjadi di Indonesia, hal ini terutama dipicu oleh mandat campuran etanol E10 secara nasional. Solusi teknologi bahan bakar canggih, seperti proses Clariant’s sunliquid®, sangat penting untuk menyesuaikan potensi bahan baku dengan permintaan akan etanol yang terus meningkat di negara ini.
Pertamina dan Clariant telah menyelidiki bagaimana cara menjembatani kesenjangan tersebut sejak tahun 2018. Kolaborasi awalnya difokuskan pada analisis kinerja tekno-ekonomi dan pengujian tandan buah kosong dan daun kelapa sawit.
Hasil akhir evaluasi menunjukkan bahwa teknologi sunliquid® berhasil mengubah kedua bahan baku menjadi etanol selulosa sekaligus mencapai hasil konversi yang baik. Kemudian dalam studi rekayasa konseptual yang dilakukan baru-baru ini, keseimbangan proses, spesifikasi sistem, dan ekonomi proses dihitung secara rinci. Hal ini menjadi dasar pertimbangan Pertamina terus berinvestasi di fasilitas produksi bahan bakar nabati komersial dalam skala komersial
“Kami sangat senang bahwa Pertamina, perusahaan energi ternama di Indonesia, telah memilih proses sunliquid® kami untuk penilaian teknologi dan bahan baku ini, serta untuk studi desain proses untuk pabrik skala komersial berbasis bahan baku regional”, kata Christian Librera , Vice President and Head of Business Line Biofuels and Derivatives, Clariant
“Hasil yang sangat baik ini sekali lagi menunjukkan fleksibilitas dan efisiensi platform teknologi sunliquid® kami untuk berbagai bahan baku lignoselulosa, ” tambah Christian
Saat perusahaan minyak internasional lainnya mulai mengarahkan transisi energi, Pertamina telah berkomitmen untuk memainkan perannya dengan mendorong pengembangan energi yang bersih untuk mengurangi emisi karbon global. Komitmen baru ini didukung oleh penilaian kunci tentang masa depan, bahwa energi bersih adalah kunci keberlanjutan energi.
“Oleh karena itu, kami memperkuat portofolio bisnis kami dengan memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan, seperti biodiesel, avtur ramah lingkungan, dan bioetanol yang menggunakan sisa-sisa kelapa sawit yang melimpah di Indonesia. Lebih lanjut, kami menyambut pertumbuhan pesat energi bersih melalui pembangunan dua kilang ramah lingkungan dan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk menjamin kemandirian energi Indonesia, ” jelas Andianto Hidayat, Vice President Downstream Research and Technology Innovation, Pertamina.
Terwujudnya proyek berbahan bakar nabati yang cangih dalam skala komersial berdasarkan bahan baku yang tersedia di berbagai daerah dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dari luar negeri dan mengamankan pasokan energi nasionalnya.
Pada 2015, pemerintah Indonesia memperkenalkan target nasional untuk biofuel. Amanat pengangkutan untuk bioetanol sebagai bagian dari Non Public Sector Service Obligation (PSO) menetapkan kandungan bioetanol 10% sebagai bahan tambahan bensin dan akan terapkan dalam beberapa tahun ke depan.



