Pengendara.com, Jakarta — Bertepatan dengan peringatan hari bahasa isyarat Internasional Asuransi Astra menyalurkan Beasiswa Pendidikan sebesar Rp 300 juta kepada SLB B Sana Dharma yang diserahkan langsung oleh Rudy Chen, CEO Asuransi Astra kepada Drs. Anang Suparman Ketua Yayasan Sana Dharma yang bertempat di kantor pusat Asuransi Astra pada Rabu (23/9).
Semoga dengan bantuan yang cukup besar ini dapat membiayai pendidikan seluruh anak didik di SLB B Sana Dharma selama masa pendemi, dan diharapkan mampu melancarkan proses belajar mengajar dan menjauhkan kata putus sekolah dari tiap anak.
SLB B Sana Dharma yang terletak di ujung gang sempit kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan merupakan sekolah yang fokus mendidik anak-anak Tuli dari tingkat TK hingga SMA sejak tahun 1979, sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Sana Dharma ini sangat mengandalkan donasi dari pihak luar untuk dapat memenuhi kebutuhan operasional setiap bulannya.

“Masing-masing dari kita memiliki perjuangan dengan versi yang berbeda dalam masa pandemi ini. Gotong royong merupakan kunci agar semua dapat selamat melewati kondisi ini. Hati kami ikut sedih saat mendengar beberapa anak di SLB B Sana Dharma terancam putus sekolah karena ketidak mampuan untuk membayar biaya pendidikan. Kami harap melalui beasiswa ini, sekolah bukan lagi menjadi suatu pilihan bagi setiap orang tua murid di SLB B Sana Dharma dan selama setahun ke depan, seluruh orang tua bisa fokus menata kondisi ekonomi keluarga tanpa perlu khawatir akan keberlanjutan sekolah anaknya,” ujar Rudy Chen, CEO Asuransi Astra.
Pada kesempatan yang sama Anang Suparman Ketua Yayasan Sana Dharma mengatakan, “Kami sangat berterima kasih atas kepedulian yang diberikan oleh Asuransi Astra. Saat kami mulai putus asa dan nyaris menyerah, bantuan ini hadir membangkitkan semangat kami lagi. Kondisi sekolah pun jadi lebih cantik dengan adanya lukisan mural persembahan Asuransi Astra. Tak sedikit murid kami yang menangis merengek ingin cepat kembali masuk sekolah saat kami perlihatkan gambar-gambar tersebut. Kami juga tidak sabar untuk mengumumkan terkait kabar bahagia atas beasiswa ini kepada para orang tua murid.”
Para siswa yang kebanyakan berasal dari masyarakat ekonomi bawah di wilayah Jakarta, Bekasi hingga Tangerang ini di masa pandemi memiliki tantangan tersendiri, sehingga kesulitan ekonomi seperti makan dan membayar kontrakan mendapat prioritas yang lebih tinggi dibanding membayar biaya pendidikan.
Proses belajar mengajar yang harus dilakukan secara daring pun menjadi tantangan tersendiri karena kurangnya sarana yang ada sehingga membuat guru harus secara bergantian menggunakan laptop milik sekolah untuk dapat menyampaikan materi ajar.



