Pengendara.com-Kecintaannya dengan roda dua tersebut bermula sejak ia duduk dibangku SMA. Ia suka balap liar demi gengsi menunjukan motornya merupakan roda dua yang tercepat diantara milik teman temanya.
“Saat saya SMA dan kuliah saya pernah aktif di dunia motor. Ketika itu saya suka balap liar. Karena tidak ada wadahnya, untuk terjun di balap benerannya. Tujuannya tak lain untuk menunjukan bahwa motor saya motor yang cepat,” kata Panglima yang mempunyai empat buah hatinya.
Sekarang ini balapan sudah ada sarananya, sirkuit Sentul. Para pebalap sekarang bisa menunjukan prestasinya dengan gemilang, tidak seperti jamannya saat itu.
“Jangan di contoh balap liar yang saya lakukan ketika itu. Dan sekarang saya yakin pihak aparat sudah memberantas balap liar. Iya itulah kenangan pahit saya yang suka balap liar, maklumlah waktu itu belum ada sarana, lapangannya,” ujarnya.
Namun hobinya itu sedikit pudar karena sibuknya pekerjaan. Saat 15 tahun menekuni dunia bisnis, saat itu anak anak masih TK dan SD dan perkembangan mereka sangat cepat. Tidak terasa jantung hatinya sudah berusia dewasa.
“Anak pertama dan anak kedua saya suka motor. Ia meminta kepada saya agar dibelikan motor. Saya kasih untuk mereka Kawasaki Ninja 250 CC. Saking hobinya, mereka memohon izin ke saya agar mereka masuk ke club motor. Dan di saat itu saya yang berusia 35 tahun merasa canggung untuk mengendarai sepeda motor. Saya saja disopirin,” ujarnya.
Keduanya benar benar hobi di motor. Kembali mereka meminta izin ke ayahandanya.
“Saya sebagai orangtua mempunyai kekhawatiran takut terpengaruh ke hal yang tidak tepat. Tapi hal ini saya coba tepiskan. Singkatnya, mereka masuk ke club motor di area Bekasi. Saat anak aktif di club tersebut, saya mendampinginya. Saya perhatikan club motor itu dapat menyalurkan hobinya dan visi misinya pun jelas. Kedua anak saya ikut di club tersebut,” katanya.
Panglima yang mempunyai motto hidup ‘Bahagia ya Sederhana’ ini, memperhatikan kedua buah hatinya. Saat itu terlintas asyik juga bila kembali bermain motor.
Mengenang dan kembali mewujudkan hobinya di dunia motor. Tapi bukan balap, melainkan untuk menyalurkan hobinya.
“Saya beli motor Kawasaki 1400 CC. Kami pun touring bersama. Saat touring saya dan anak anak serta member club motor lainnya merasa nyaman. Kalau masalah masalah kecil pasti ada di club motor. Wajarlah. Saat di club, saya tidak merasa tua, berjiwa muda. Bergairah, dan sangatlah indah. Dan sangat ingin punya club motor,” katanya lagi.
Bermanfaat, Mendirikan Garnic
Sebagai orangtua tentunya mempunyai keinginan agar club motor yang digeluti anaknya tersebut bermanfaat. Dan sebagai Panglima Garda 73, agar kegiatan club motor tersebut dapat dituangkan ke karyawannya bila mempunyai hobi motor. Ia menceritakan ke anak buahnya di Garda 73.
“Di Garda 73 ini kan banyak SDM-nya, saya menceritakan bahwa saya ikut club motor. Bagaimana kalau kita membuat club motor Garda. Gayung bersambut, ide saya ini di dukung oleh teman teman kantor dan ada beberapa sahabat di komunitas yang ingin buat club motor baru dengan visi dan misi yang sama. Seperti bang Boy, bang Aray, bang Awi, bang Doli, bang Al dan lain lain. Akhirnya sepakat namanya Garda Ninja Club (Garnic),” ujarnya.
Garnic adalah sebuah wadah dengan hobi yang sama, motor. Visi misi Garnic yaitu menjalankan syariat agama. Tidak melanggar yang diperintahkan agama. Seperti minuman beralkohol, judi, narkoba, maksiat. Intinya club Garnic ini ingin memberikan sesuatu yang berbeda di dunia bikers.
“Misalnya saja saat touring kita membantu pembangunan musalla atau masjid. Dan memang Garnic itu tidak punya prioritas untuk banyak member. Kami di Garnic saling menjaga komtmen. Mempunyai satu kesatuan yang kuat. Kita merangkul teman teman untuk berbuat positif di Garnic,” kata Panglima.
Jika ada yang ingin masuk Garnic silakan. Garnic bukan club motor yang kaku dan banyak aturan. Jika ada yang ingin daftar ke Garnic ya harus tahu komitmennya. Yang beda dari club motor lainnya.
“Alhamdulillah Garnic sampai sekarang masih eksis dengan member yang satu kata, satu tujuan dan di dadanya ada Garnic,” katanya lanjut.
Seiring berjalan member Garnic ada yang bertahan dan ada yang tidak satu visi dan misi. Inilah seleksi alam. Saat ini Garnic berjalan dengan hati nurani yang dimiliki oleh semua member. Hingga kini member Garnic ada 40 anggota.
“Jika tidak ada halangan kami akan menyelenggarakan Raker bulan depan. Tapi kami juga masih memantau keadaan covid ini. Memang untuk sekarang ini terasa berat jika mengadakan touring dan lain lain. Yang dibutuhkan sekarang adalah kebutuhan para member Garnic. Raker tersebut bertujuan untuk membicarakan langkah langkah Garnic ke depannya. Kami juga ingin mendata teman-teman Garnic yang terdampak Covid. Jika banyak yang terdampak. Garnic akan membantu mereka,” ucapnya.
Jika terlaksana, di Raker itulah akan dibahas dan menghidupkan nuansa touring, sentul, terobosan terobosan baru.
“Di Raker itu kami akan evaluasi kegiatan Garnic. Selama dua tahun berjalan Garnic telah touring dan telah melaksanakan anniversarynya yang pertama. Dan telah aktif di sirkuit Sentul. One Make Race Garnic. Mendatangi ulangtahun Club atau komunitas lainnya. Garnic tetap solid,” kata Panglima yang menutup kisahnya kepada Pengendara.com.
