Pengendara.com-Penuturan ini dikatakan saat live langsung di facebook, yang dinamai Ngovid. Siaran langsung ini terselenggara berkat dukungan Forum Wartawan Otomotif (Forwot) dengan dipandu moderator, Riyandy Aristyo (Jaber), Kamis (7/5).
Hendro Kaligis, yang memegang amanah sebagai Business Development Head, Manager PT SIS menuturkan secara detailnya mengenai usaha Auto Value PT SIS sekarang ini.
Menurutnya, semua industri terkena dampak Covid-19, ada sedikit justru yang menjadi sangat hidup, tetapi sebagian besar dampaknya negatif.
“Begitu juga dengan industri mobil bekas (mobkas), secara umum di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang terutama setelah diberlakukan PSBB dan sebelum adanya peraturan tersebut. Penjualan setelah PSBB nyaris tidak ada. Paling customer lama yang sudah pesan di follow up, kalau customer baru tidak ada,” katanya.
Ia melihat industri mobkas inilah yang sangat berdampak di saat pandemi ini, apalagi dengan adanya peraturan PSBB. Mengenai angka pastinya, ia tidak mengetahui. Karena penjualan mobil seken ini naik turun.
Misalnya saja ia mencontohkan, beberapa teman dari bursa juga menyampaikan bisa turun sampai 80 persen. Penurunan ini sama dengan yang dialami Auto Value.
“Bila dilihat data Maret Auto Value jualannya tidak turun malah naik, dan boleh dikatakan yang tertinggi dalam setahun terakhir, mengalahkan PIK-nya tahun lalu, bulan Mei saat puasa. Saat itu kami sudah confidence akan survive, ternyata di akhir Maret dan puncaknya lagi ketika PSBB, tiarap semua,” ucapnya.
Sebagai Business Development Head, Manager PT SIS, ia berharap di bulan Juni nanti akan masuk masa recovery. Namun begitu, ia juga belum mengetahui secara jelas apakah ke depannya ada peluang industri dibuka kembali.
“Kami tidak tahu ya bagaimana ke depan, dan akan ada pelonggaran dan industri dibuka lagi. Mudah-mudahan ada kabar baik. Yang terpenting adalah kesehatan kita di saat ini,” lanjutnya.
Strategi Penjualan Auto Value
Saat pandemi baru mulai, pihaknya telah membuat strateginya. Tetapi apa yang terjadi untuk sekarang ini, justru hilang prioritas dan daya beli masyarakat. Wajarlah untuk saat ini orang membutuhkan kebutuhan primernya.
“Tidak ada strategi secara formula yang kami buat untuk meningkatkan penjualan. Namun yang pertama kami lakukan melihat ada pergeseran dan priotritas daya beli masyarakat tidak ada formula yang cukup kuat untuk mempertahankan penjualan mobil bekas pada kondisi seperti ini. Tapi Semua mitra kami menjalankan protokoler kesehatan tinggi seperti menggunakan masker, hand sanitizer, wajib mencuci tangan dan penyemprotan disinfektan,” tuturnya lagi.
Yang menjadi pertanyaan lagi adalah apakah ada penurunan nilai harga atau tidak dengan pandemi ini? (Bersambung part 2).
