Bro Jokowi Buka IIMS 2018, Jayalah Industri Kreatif dan Otomotif Indonesia!

    Industri kreatif dan otomotif semakin bergairah dan cerah sebagai akselerator Indonesia berkemajuan.

    0
    667
    Bro Jokowi menaiki salah satu motor custom yang dipamerkan dalam IIMS 2018./Foto Ist/Pengendara.com

    Pengendara.com—Presiden Joko Widodo menghadiri dan membuka secara resmi event akbar Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, pada Kamis (19/4/2018).

    Presiden Republik Indonesia Joko Widodo membuka secara resmi IIMS 2018./Foto Ist/Pengendara.com

    Setelah memberi sambutan dan pembukaan acara, Bro Jokowi berkeliling, melihat-lihat kendaraan yang dipamerkan dalam IIMS 2018, sempat mampir di stand Toyota, dan lainnya di area JIExpo. Sambil berkeliling, Bro Jokowi didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

    Bro Jokowi melihat motor Chopper berbasis Royal Enfield yang pernah dipakainya touring di kawasan Sukabumi bersama komunitas bikers. Motor tersebut turut dipamerkan dalam IIMS 2018./Foto Ist/Pengendara.com

    Bro Jokowi tampil keren dengan jaket denim bergambar peta Indonesia di bagian depannya. Jaket tersebut pernah dipakainya ketika touring dengan motor chopper dan komunitas bikers di kawasan Sukabumi, beberapa waktu lalu.

    Tampak, Bro Jokowi juga melihat-lihat motor custom yang dipamerkan dalam ajang IIMS 2018 ini, termasuk motor Chopper berbasis Royal Enfield yang pernah dikendarainya. Dalam gambar paling atas, Bro Jokowi juga sempat menaiki salah satu motor yang dipamerkan di IIMS 2018.

    Melihat-lihat motor yang dipamerkan dalam ajang IIMS 2018./Foto Ist/Pengendara.com
    Bro Jokowi tampil keren dengan jaket jeans bertuliskan Indonesia dengan grafis nuansa etnik./Foto Ist/Pengendara.com
    Presiden Jokowi menjawab pertanyaan wartawan dalam IIMS 2018./Foto Ist/Pengendara.com

    Berikut ini Sambutan Pidato Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam Pembukaan IIMS 2018

    Bismillahirrahmanirrohim
    Assalammualaikum Wr Wb,

    Salam sejahtera untuk kita semua, yang saya hormati yang mulia para duta besar negara sahabat, yang saya hormati kabinet kerja, yang saya hormati seluruh pejabat eselon 1 kementerian terkait, para pelaku dunia otomomotif dan bapak/ibu tamu undangan yang berbahagia.

    Saya kira kita disini semua hidup di era dimana perkembangan teknologi begitu sangat cepat. Tentunya kita semua sudah memahami perkembangan yang luar biasa di sekotr e-commerce dan ekonomi digital.

    Dan kita ingat 2 minggu lalu bersama menteri perindustrian resmi meluncurkan program making indonesia 4.0 sebagai tanggapan pemerintah atas fenomena yang namanya revolusi indutsri 4.0. Saat itu saya memberikan beberapa contoh dari yang namanya revolusi 4.0. Saat ini ada sebuah robot yang menggunakan teknologi 3D printing untuk mencetak sebuah tempat tinggal. Robot ini bisa mencetak sebuah rumah dalam waktu 24 jam dengan biaya 1/3 dari ongkos konstruksi tradisional, ini adalah sebuah lompatan yang kita semua harus tahu.

    Kemudian ada juga robot pembersih karpet di airport Singapore, Changi Airport yang mengendarai dirinya sendiri secara otonom. Ini kita juga nantinya harus mulai sadar bahwa kemungkinan tukang sapu akan hilang karena tergantikan oleh robot seperti ini. Berarti apa? Berarti bahwa revolusi industri 4.0 sudah tiba di ASEAN, sudah ada di negara kita, ada di negara—negara tetangga kita.

    Bapak ibu sekalian yang saya hormati, saya kira kita disini juga memahami bahwa revolusi industri 4.0 juga akan mentransformasi industri mobil dan otomotif. Tema yang dipilih dalam IIMS kali ini adalah dukungan dan komitmen kepada mobil listrik, ini menunjukkan bahwa penyelenggara paham betul bahwa revolusi 4.0 sedang menuju ke sektor otomotif juga.

    Apa konsekuensi revolusi 4.0 di sektor otomotif? Termasuk dampak transisi menjadi mobil listrik. Yang pertama, jumlah komponen otomotif dalam sebuah mobil listrik hanya 1/10, informasi yang saya terima seperti itu. Mobil listrik jumlah komponennya hanya 1/10 mobil biasa yang saat ini kita pakai.

    Artinya apa? Kalau besok semua mobil di Indonesia sudah ganti jadi mobil listrik, industri otomotif akan meciut 90%. Kedua, karena mobil listrik sebuah mesin yang jauh lebih sederhana dari mobil biasa, maka mobil listrik jauh lebih jarang mogok dan jarang diperbaiki atau dirawat. Berarti kedepan yang namanya bengkel pekerjaannya juga akan jauh berkurang. Mungkin akan seperti itu.

    Kemudian ada lagi dampak dari sektor e-commerce yang namanya sharing economy, di sektor angkutan mobil tentu kita kenal yang namanya Go-Car, Grab Car ini layanan dari Gojek dan Grab, pelanggan bisa mengakses angkutan mobil kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan aplikasi mobile di handphone.

    Saya juga mendapatkan informasi bahwa perusahaan mobil BMW, sedang menjalankan experiment abonemen mobil BMW. Ga usah beli mobil tapi bayar biaya abonemen bulanan dan aplikasi mobile bisa mengakses berbagai model mobil BMW dimana saja dan kapan saja.

    Tren-tren seperti ini harus kita baca. Akhirnya banyak yang menyampaikan, ngapain masih beli mobil? Hati-hati ini, kalau bisa mengakses transportasi mobil kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan aplikasi mobile. Kalo orang tidak lagi beli mobil, hanya panggil mobil dari waktu ke waktu, dan kalau mobil listrik semua dan komponen sedikit dan jarang masuk bengkel, akhirnya industri otomotif akan menciut luar biasa. Itu prediksi-prediksi dan itu yang saya enggak percaya. Jangan diam dulu. Saya enggak percaya ini. Kalau yang pesimis-pesimis seperti itu saya enggak percaya.

    Bapak ibu sekalian yang saya hormati, saya percaya bahwa dengan revolusi industri 4.0, pertumbuhan di sektor otomotif justru akan melonjak bukan menciut. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan di seputar sektor otomotif dan sektor transportasi mobil akan bertambah bukan berkurang. Bahwa jenis pekerjaan akan berubah, iya. Bahwa pekerja harus bergeser, iya, ke jenis pekerjaan yang agak berbeda, iya. Tapi bahwa jumlah pekerja di sektor otomotif dan transportasi mobil akan berkurang menurut saya tidak.

    Pertama, coba kita pikir kembali kalau bisnis model beralih dari beli mobil jadi panggil mobil, berarti mobil yang sama akan dipakai oleh banyak orang dan akan terus menerus. Dari situasi dimana orang punya mobil pribadi yang hanya dipakai 2-3 jam perhari, sisanya diparkir di garasi alias mobil itu nganggur. Beralih kepada mobil publik, jadi transportasi publik nanti tidak hanya LRT yang kita siapkan atau Busway, tapi juga akan beralih ke mobil publik dimana setiap mobil bisa dipakai banyak orang dan dipakai terus menerus.

    Berarti masing-masing mobil dipakai terus-terusan bisa selama 18 jam atau 20 jam bahkan mungkin 24 jam, bukan hanya 2 atau 3 jam perhari. Yang pasti mobil itu perlu dirawat sesering mungkin, perlu dicuci sesering mungkin dalamnya, interiornya juga harus dicuci, eksterior luarnya juga harus dicuci.

    Bapak ibu bisa bayangkan bagaimana merawat taksi 18 jam dengan banyak orang keluar masuk. Artinya mobil publik tadi harus dirawat dan dicuci secara intensif. Kalau kita lihat cuci mobil terutama interiornya adalah sebuah jasa yang padat karya, merawat mobil adalah jasa yang padat karya.

    Kalau yang namanya mobil biasa dipakai 20 jam sehari bukan lagi 2-3 jam sehari yang sudah pasti umur mobil itu tidak akan lama, jangka hidupnya lebih pendek. Artinya life cycle mobil akan lebih cepat, kalau dulu mobil pribadi jarang dipakai bisa tahan 10-12 tahun, mungkin nanti mobil publik sudah harus ganti 2-4 tahun. Artinya produksi mobil harus lebih banyak.

    Kemudian definisi yang namanya mobil akan berkembang, akan melebar dan jauh lebih beragam. Ini sebuah contoh adalah autonomous vehicle yang bisa mengendarai dirinya sendiri tapi untuk mengantar barang bukan penumpang. Mobilnya kecil dan efisien khusus untuk antar barang.

    Kita bisa bayangkan permintaan kendaraan seperti ini akan luar biasa nantinya kalau teknologi ini sudah matang. Jadi bapak ibu sekalian bahwa akan ada gejolak teknologi di sektor otomotif, iya. Bahwa revolusi industri 4.0 akan menjungkirbalikan industri otomotif, iya.

    Tapi menurut saya transisi ke generasi berikut dari teknologi otomotif akan membuka peluang yang luar biasa. Yang kita perlukan adalah melek. Tau dan benar mengikuti. Benar-benar mencermati secara cepat, mendalami secara cepat dan mempersiapkan secara cepat. Kita harus cekatan dan kita harus siap.

    Saya optimis, bahwa dengan bakat yang kita punya, yang dimiliki Indonesia di sektor otomotif dengan industri otomotif yang tangguh. Saya yakin bisa menggarap peluang-peluang yang ada.

    Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini dan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrohim, Indonesia International Motor Show 2018 dengan ini saya buka.