Suherli./Pengendara.com
PT Denka Pratama

Pengendara.com—Orangtuanya memberi nama Suherli, nama yang sepertinya mendekat kepada brand Harley-Davidson. Padahal, sejak remaja Suherli hanya suka motor sport, mulanya naik motor 400 cc hingga 1.000 cc, sampai kemudian, ketika membaca sebuah majalah, perhatiannya tertuju kepada motor besar Harley-Davidson.

“Tadinya saya hanya tahu Harley-Davidson sebatas Road King dan Fatboy. Pengetahuan saya terbatas soal Harley. Jadi, keinginan punya Harley ya hanya ingin punya Road King atau Fatboy,” ungkap pria yang akrab disapa Bro Herli ini kepada Pengendara.com

Bro Herli saat touring./Pengendara.com

Ketika punya rezeki membeli Harley-Davidson, Bro Herli membeli Road King. “Surat pemesanan kendaraan (SPK) nya sudah Road King. Tapi, istri saya lebih memilih Ultra. Alasannya posisi tempat duduk penumpang di Ultra lebih nyaman daripada Road King. Akhirnya SPK diubah ke Ultra,” kata Bro Herli yang pertama kali memiliki Harley-Davidson Ultra Classic pada 2014.

Setelah memiliki motor besar Harley-Davidson, Bro Herli bergabung di komunitas Ikatan Sport Motor Besar (ISMB) yang berada di Bekasi, sesuai domisilinya. Dia sempat menjadi ketua ISMB. “Karena pergaulan, saya bergabung dengan Harley Owners Group (H.O.G.) Jakarta Chapter,” kata Bro Herli.

Bro Herli bersama istri tercinta Sis Cut./Pengendara.com

Di H.O.G. Jakarta Chapter, Bro Herli mengaku gemar touring. Pertama kali ikut touring menghadiri event Jogja Bike Week 2005. “Saat itu saya belum bisa membawa motor dengan baik. Pernah rebah dari motor, boncengan berdua dengan istri juga pernah rebah. Tapi, engga bikin kapok. Yang ada saya pikirin kenapa bisa rebah, supaya engga terulang lagi,” kata Bro Herli.

Lantaran keseringan ikut touring, melalui beragam medan jalan, membuat skill naik Harley semakin terasah dan pengalaman bertambah. “Di jalan raya, intinya saling respect dengan pengguna jalan lain. Kita mengutamakan keselamatan berkendara. Ini membuat touring semakin menyenangkan,” kata Bro Herli.

Mengendarai motor besar Harley-Davidson memiliki kenikmatan tersendiri yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Lebih jauh mengenai touring, Bro Herli merasa nyaman touring ramai-ramai ketimbang sendirian. “Rasa dan suasana brotherhood sangat berbeda. Feel naik motor ramai-ramai asyik. Kalo sendirian, mana enak,” kata Bro Herli yang sudah touring ke Flores, Aceh, Bengkulu, Padang, Malang, Jakarta-Solo, Prambanan, Jakarta-Bali, Makassar-Manado, dan daerah lainnya hampir di seluruh Indonesia. Belum lama ini, bersama Harley Owners Group (H.O.G) Anak Elang Harley-Davidson of Jakarta, Bro Herli USA Ride menghadiri selebrasi Hari Ulang Tahun Ke-115 Harley-Davidson di Amerika Serikat.

Bro Herli seneng banget touring./Pengendara.com

Menurut Bro Herli, seluruh bikers di H.O.G. Anak Elang Jakarta Chapter mengutamakan keselamatan berkendara. Persiapan touring selalu direncanakan dengan matang. Ada ambulans, dokter, back-up car, mekanik bersertifikasi Harley-Davidson Motor Company (HDMC), dan staf yang mengatur perjalanan, akomodasi, hotel, dan lainnya sehingga bikers hanya fokus berkendara sepanjang rute perjalanan.

“Di samping itu, kami juga rutin melakukan Safety Riding Course, terutama kepada members baru agar dapat mengendarai motor besar Harley-Davidson dengan baik dan benar, aman dan nyaman, menaati aturan dan keselamatan berkendara,” kata Bro Herli yang bersama H.O.G. Anak Elang Harley-Davidson of Jakarta sering melakukan acara gathering, menjalin silaturahim yang kuat dengan sesama bikers, membuat charity program, dan tanggap membantu korban bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi.

Bro Herli bersama Sis Cut memiliki Vanderhall./Pengendara.com

Bro Herli mengaku lebih suka naik motor daripada mobil karena memiliki kesenangan tersendiri. “Bagi yang berjiwa biker, ada tantangan dan kenikmatan yang tidak bisa didapatkan dengan naik mobil,” kata Bro Herli yang memiliki Vanderhall.

“Saya beli Vanderhall di Amerika saat touring ke Sturgist tahun 2017, kemudian saya lihat banyak macam motor roda tiga, tapi roda dua nya di depan, satu di belakang. Tapi motor roda tiga ini, pakai stir atau kemudi, bukan stang seperti motor. Saya coba test drive muter-muter tanjakan, tikungan, ternyata stabil. Bentuknya seperti kendaraan zaman old. Harganya sekitar USD29.000 atau Rp350 jutaan, belum termasuk pajak dan biaya masuk,” kata Bro Herli.

Bro Herli di Sturgist, Amerika Serikat./Pengendara.com

Bro Herli menggemari Harley-Davidson karena memiliki karakter kuat dan berbeda yang tidak dimiliki oleh merek lain. “Susah untuk menyebutkan karakter macam apa, hanya biker yang mengendarai Harley-Davidson yang dapat merasakan kenikmatannya,” kata Bro Herli yang senang dengan Harley-Davidson tipe touring seperti Ultra dan Road Glide.

“Saya suka banget dengan tipe touring karena enak untuk dikendarai jarak jauh dan rasanya lebih aman dan nyaman,” kata Bro Herli. Sedangkan untuk jarak dekat, Bro Herli merekomendasikan model Sportster atau Softail, karena handlingnya lebih ringan dan asyik diajak city ride.

Dealer Suzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here