Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, dan Menteri Muda di bawah Menteri Eropa dan Luar Negeri Republik Perancis, Jean-Baptiste Lemoyne meresmikan PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI), foto: dok/Pengendara.com.
PT Denka Pratama

Pengendara.com—Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, dan Menteri Muda di bawah Menteri Eropa dan Luar Negeri Republik Perancis, Jean-Baptiste Lemoyne meresmikan PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI), perusahaan Patungan antara Michelin Group dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Proses penanda tanganan yang dilakukan di Cilegon pada Kamis (29/11) merupakan wujud nyata komitmen Michelin dan Chandra Asri, untuk memperkuat industri manufaktur Indonesia di tengah kondisi perekonomian global dinamis. Karena PT SRI merupakan produsen karet sintetis pertama di Indonesia yang memproduksi Polybutadiene Rubber dan Solution Styrene Butadiene Rubber.

Kehadiran PT SRI akan memperkuat sektor manufaktur dengan menghasilkan produk-produk bernilai tambah, menggabungkan bahan baku Chandra Asri dan teknologi Michelin dengan mengubah bahan mentah menjadi produk setengah jadi yang digunakan sebagai komponen utama untuk menghasilkan ban ramah lingkungan.

“PT SRI sebagai salah satu pionir di industri karet sintetis ini menggunakan teknologi baru untuk menghasilkan produk-produk bernilai tambah melalui kolaborasi dengan produsen ban inovatif dunia, Michelin dan perusahaan petrokimia terdepan di Indonesia.” ungkap Brad Karas, Presiden Direktur PT SRI.

PT SRI merupakan perusahaan gabungan (joint venture) hasil kerja sama Michelin dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan kepemilikan saham masing-masing sebesar 55% dan 45%. Nilai investasi dari hasil kerja sama tersebut mencapai US$ 435 juta. SRI menerima insentif tax holiday dari Pemerintah Indonesia, dan PT SRI mulai berproduksi di bulan Agustus, sejalan dengan strategi Pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara melalui penguatan sektor manufaktur dalam negeri dan ekspor nasional.

Dalam kesempatan yang sama Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menjelaskan, “Industri nasional saat ini dituntut untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Salah satu upaya mendorong peningkatan daya saing industri nasional dilakukan melalui inovasi teknologi secara berkelanjutan.”

Guna merealisasikan visi tersebut, tidak cukup mengandalkan pertumbuhan organik semata, namun diperlukan terobosan di bidang industri melalui pemanfaatan teknologi terkini. Hal ini sejalan dengan upaya Pemerintah dalam mewujudkan visi Making Indonesia 4.0 untuk mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif atau menyeluruh. Salah satu strateginya adalah melalui perombakan alur produksi industri konvensional melalui inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

“Pemerintah mengapresiasi langkah Michelin dan Chandra Asri dalam membangun industri manufaktur yang menghasilkan produk berdaya saing tinggi melalui pemanfaatan teknologi. Kehadiran SRI dapat memenuhi permintaan domestik maupun global dan berkontribusi langsung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara secara berkelanjutan,” tambah Airlangga.

Menurut Menperin, industri karet sintetis penting dikembangkan seiring meningkatnya kebutuhan di sektor industri. Karet sintetis banyak dimanfaatkan untuk memproduksi ban, conveyor belt, komponen karet, alas kaki, serta pembungkus kabel listrik. Kebutuhan karet sintetis di dalam negeri mencapai 230 ribu ton, sementara kapasitas produksi saat ini sebesar 75.000 ton. Sehingga pemenuhan kebutuhan saat ini melalui impor.

Peresmian pabrik SRI sebagai komitmen nyata Perancis dalam melakukan investasi jangka panjang di Indonesia, kerja sama Michelin dengan Chandra Asri merupakan langkah strategis dalam mendukung terwujudnya bisnis yang berkelanjutan. Upaya ini memenuhi permintaan global yang tinggi terhadap produk ban telah memacu permintaan produksi karet sintetis. Hal ini menjadi faktor utama mengapa Michelin memilih membangun pabrik karet sintetis ketiganya di Indonesia setelah Perancis dan Amerika Serikat.

“Kemitraan strategis antara Michelin dan Chandra Asri merupakan kolaborasi yang baik antara Perancis dan Indonesia. Michelin merupakan salah satu perusahaan besar asal Perancis yang menunjukkan visi jangka panjangnya untuk berinvestasi di Indonesia. Hal itu terjadi karena banyak perusahaan asal Perancis percaya akan potensi sumber daya manusia dan perekonomian Indonesia,” ujar Jean-Baptiste Lemoyne.

Michelin membutuhkan pasokan karet sintetis yang reguler untuk memastikan pertumbuhan ban ramah lingkungannya secara global. Untuk itu, kehadiran SRI sangat penting bagi Michelin. Karenanya, bermitra dengan perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia, Chandra Asri, sebagai realisasi komitmen untuk berinvestasi di Indonesia.

Dalam hal ini PT SRI menargetkan kapasitas produksi Polybutadiene Rubber dan Solution Styrene Butadiene Rubber sebesar 120.000 ton per tahun. Pabrik ini memiliki fleksibilitas tinggi dengan kemampuan untuk menyesuaian ragam bauran dalam rangka memenuhi permintaan.

Untuk dapat memenuhi standar manufaktur, Michelin juga menyediakan pelatihan dan dukungan bagi para tenaga ahli SRI dari Indonesia sehingga mereka dapat mengembangkan kompetisi lokal sekaligus mendukung perkembangan daya saing nasional.

“Kami berinvestasi dalam infrastruktur dan SDM. Karena itulah kami memberikan pelatihan ekstensif sepanjang 2015-2017 bagi karyawan SRI, dengan cara mengirimkan mereka ke pabrik karet sintetis Michelin lainnya di Perancis dan Amerika Serikat. Secara umum, para tenaga ahli pilihan SRI menjalani 800 jam pelatihan di pabrik-pabrik Michelin. Kami meyakini pentingnya berbagi aset teknologi, keahlian dan ketrampilan dalam rangka mendukung kesuksesan proyek ini,” Florent menjelaskan.

Kerjasama dengan Michelin dalam pembangunan pabrik karet sintetis SRI ini sejalan dengan rencana perusahaan untuk menambah nilai tambah produk. Teknologi Michelin mengubah butadiene, salah satu produk Chandra Asri, menjadi karet sintetis.

“Kami merasa senang dan bangga dapat menjalin kemitraan dengan Michelin, sebuah kolaborasi yang sangat penting dalam memperkuat industri manufaktur di Indonesia, dan kami percaya kerja sama ini dapat lebih meningkatkan daya saing Chandra Asri secara nasional maupun internasional. Sebagai tahap awal, kami yakin dapat memenuhi seluruh permintaan Michelin untuk kebutuhan karet sintetisnya,” kata Erwin Ciputra, Direktur Utama Chandra Asri.

Chandra Asri merupakan perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia yang diyakini menjadi tulang punggung dalam membangun industri di negeri ini. Tahun ini Chandra Asri memenuhi 30% permintaan pasokan petrokimia dalam negeri.

Dealer Suzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here