Jusri Pulubuhu/Dok Pribadi/Pengendara.com
PT Denka Pratama

Pengendara.com—Jusri Pulubuhu mengatakan, pola pikir atau mindset setiap pengendara harus di-setting dengan sejumlah amunisi penting, yakni mentalitas, teknik berkendara, dan time management.

Hampir setiap hari kita mengalami kemacetan lalu lintas. Macet biasa terjadi pada saat berangkat kerja di pagi hari dan jam-jam pulang kantor di sore hari. Hampir seluruh jalan raya menuju pusat bisnis, perkantoran, bahkan hingga kawasan pinggiran mengalami kemacetan, terutama di kota-kota besar metropolitan.

Di hari libur sekalipun, jalan-jalan tetap saja macet. Kini, jalanan benar-benar padat oleh kendaraan. Saking padatnya, seringkali kita melihat ada pengendara yang mengambil hak pejalan kaki dengan menyusuri trotoar.

Jusri Pulubuhu sangat gemar main motor./Dok Pribadi/Pengendara.com

“Macet dapat memicu stress dan emosi labil. Lelah secara fisik dan psikis membuat pengendara mudah emosional, lupa toleransi, apalagi mematuhi peraturan lalu-lintas. Kecelakaan pun rentan terjadi,” ungkap Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu kepada Pengendara.com.

Oleh karena itu, kita perlu memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi situasi dan kondisi ini. Bekal paling utama adalah mengubah mindset, dari kebiasaan menyerang atau emosional menjadi upaya untuk bertahan atau bertindak rasional dengan meningkatkan kesabaran ketika berkendara.

“Mengubah mindset ini sangat penting dan urgent. Dengan begitu, kita memiliki kepedulian dan respect yang tinggi kepada sesama pengguna jalan. Karena di jalan raya kita semua bersaudara,” kata Jusri yang lebih dari 30 tahun menggeluti Safety Riding. Melalui perusahaan yang dia dirikan yakni Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri rajin dan fokus memberikan pelatihan Keselamatan Berkendara baik secara perorangan, kelompok, instansi, perusahaan, club, dan komunitas.

JDDC berdiri sejak 1984 dan dikenal sebagai perusahaan pioner yang memberikan jasa pelatihan Defensive Driving di Indonesia. Sampai sekarang lebih dari 500.000 drivers telah menjalani pelatihan dan memperoleh sertifikasi dalam keselamatan berkendara. Sejak 1991 JDDC meluaskan spektrum pelatihan berkendara mobil dan motor dalam beragam variasi jalan, termasuk di jalan berbahaya di lokasi pertambangan minyak dan gas di kawasan pedalaman, perbukitan, dan pegunungan.

Jusri melanjutkan, mindset ini akan menghasilkan karakter pengendara yang selalu waspada, berempati, memahami situasi dan kondisi, melaksanakan peraturan, dan tentunya sabar. “Setiap pengendara yang memiliki mindset tersebut akan berlaku defensive dalam driving, baik mengendarai mobil atau motor,” kata Jusri yang paling hobi touring bermotor.

Jusri Pulubuhu memberikan pelatihan teori Safety Riding Course./Dok Pribadi/Pengendara.com

Mentalitas berkaitan dengan budi pekerti yang baik. Kendati lelah karena macet, pengendara memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Sedangkan, skills berkendara adalah kemampuan menangani dan menguasai kendaraan, semakin sering berkendara akan banyak pengalaman.

Jangan lupa memperhatikan rambu-rambu dan selalu mematuhi peraturan lalu lintas.
Sementara, time management adalah bekal yang paling sering lupa dibawa. Ketinggalan di rumah, kata Jusri, padahal, seluruh bekal yang disebutkan tadi harus dibungkus oleh time management.

“Harus ada interval waktu yang cukup di perjalanan, sehingga kita tidak berlaku terburu-buru,” kata Jusri. Bila terjadi peristiwa atau kejadian yang tidak kita inginkan di jalanan, seperti macet, kita tidak mudah emosional. Setidaknya kita dapat menikmati perjalanan daripada mereka yang terburu-buru.

Jusri Pulubuhu saat balapan mengendarai Harley-Davidson./Dok Pribadi/Pengendara.com

Dengan fokus pada defensive driving kita tidak mudah terprovokasi. Kita akan memiliki kesabaran tingkat tinggi dan upaya antisipatif selama perjalanan di jalan raya, termasuk saat menghadapi situasi dan kondisi macet yang paling tragis sekalipun.

“Pengendara yang selalu mengutamakan keselamatan akan berlaku tertib berlalu-lintas dan pattern antisipatif,” kata mantan pembalap mobil dan motor era 1980’an di Sirkuit Ancol ini.

Jusri memiliki obsesi untuk menurunkan dan meminimalisasikan angka kecelakaan lalu-lintas. “Bagi saya, kecelakaan ini tidak hanya mengakibatkan orang meninggal, tetapi juga meningkatkan kemiskinan, ketika kecelakaan ini dialami para tulang punggung keluarga,” kata Jusri yang berharap Keselamatan Berkendara menjadi kebutuhan dan gaya hidup yang memberikan kebanggaan bagi kita semua karena upaya ini telah menyelamatkan banyak nyawa, dimulai dari diri kita sendiri.

Dealer Suzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here